Massijaya (2006) mengemukakan bahwa urutan proses dalam
pembuatan kayu lapis adalah sebagai berikut:
- Seleksi Log
Log yang akan dipergunakan sebagai
kayu lapis diseleksi mulai dari ukuran, bentuk, dan kondisinya terhadap
cacat-cacat yang masih diperbolehkan.
- Perlakuan awal pada log
Perlakuan awal ini ditujukan untuk
memudahkan dalam proses pengupasan log, terutama untuk kayu yang memiliki
kerapatan tinggi. Beberapa perlakukan awal pada log diantaranya adalah
pemanasan log (dengan air panas, uap panas, uap panas bertekanan tinggi,
listrik, memaksa air/uap panas masuk dari arah longitudinal. Haygreen dan
Bowyer (1993) dan Tsoumis (1991) mengemukakan beberapa keuntungan dari
pemanasan log diantaranya adalah terjadi peningkatan rendemen sebesar
3-5%, peningkatan kualitas vinie
(ketebalan lebih seragam, permukaan lebih halus, retak akibat pengupasan dapat
dikurangi), pengurangan biaya pengolahan, pengurangan pemakaian jumlah perekat,
mengurangi perbedaan kadar air kayu gubal dan kayu teras, memperbaiki warna
kayu, membunuh jamur dan serangga perusak kayu.
- Pengupasan
Tsoumis (1991) mengemukakan bahwa
ada tiga metode pengupasan vinir yaitu: (1) Rotary
cutting / pelling, (2) Slicing / sayat,
(3) Sawing. Prose spelling
memproduksi lembaran vinir yang kontinyu, sedangkan slicing memproduksi lembaran vinir yang terputus. Pelling kebanyakan dipergunakan dalam
pembuatan kayu lapis tipe ordinary
sedangkan slicing untuk fancy plywood. Vinir yang diproduksi
dengan proses rotary cutting menghasilkan
dua sisi yaitu: sisi luar (tight side)
dan sisi dalam (loose side). Bagian loose side ini merupakan bagian yang
terdapat retak akibat pengupasan yang dikenal dengan leathe check.
- Penyortiran vinir
Kegiatan ini dilakukan untuk
menseleksi vinir setelah proses pengupasan, vinir dipisahkan antara yang rusak
dengan yang tidak, serta vinir untuk bagian face
dan core.
- Pengeringan Vinir
Kegiatan ini dilakukan dengan
tujuan untuk mengurangi kadar air vinir sehingga dapat menghindarkan terjadinya
blister pada kayu lapis setelah dilakukan pengempaan panas. Tsoumis (1991)
mengemukakan bahwa temperature dalam pengeringan vinir sekitar 60-180˚C
tergantung pada jenis kayu, kadar air awalnya, ketebalan vinir.
- Perekatan
Aplikasi pelaburan perekat pada
kayu lapis dapat dilakukan dengan cara roller
coater, curtain coater, spry coater,
atau liquid and foam extruder (Youngquist, 1999). Perekat yang dapat
dipergunakan dalam pembuatan kayu lapis antara lain Phenol Formaldehyde (PF), Urea
Formaldehyde (UF), Melamine Urea
Formaldehyde (MUF), Polyurethan and
Isocyanat (Vick, 1999). Tsoumis (1991) mengemukakan bahwa berat labur
(jumlah perekat yang dipersiapkan per satuan luar permukaan vinir) antara
100-500 g/m2 tergantung dari beberapa faktor seperti jenis kayu,
jenis perekat serta cara pelaburannya.
- Pengempaan
Menurut Tsoumis (1991) pengempaan dikelompokkan
menjadi 2 (dua) yaitu: hot press (kempa
panas) dan cold press (kempa dingin).
Sebagian besar kayu lapis diproduksi dengan menggunakan kempa panas. Besarnya
tekanan berkisar antara 100-250 psi tergantung pada kerapatan kayunya. Untuk
jenis kayu berkerapatan rendah (100-150 psi), untuk jenis kayu berkerapatan
sedang (150-200 psi) serta untuk kayu berkerapatan tinggi (200-250 psi).
Besarnya temperatur pengempaan tergantung pada jenis perekat yang digunakan. UF
(120˚C) dan PF (150˚C). Kempa dingin dilakukan apabila perekat yang dipakai
adalah perekat alami atau perekat sintetik yang mengeras pada suhu ruang.
Besarnya tekanan pada pengempaan dingin berkisar antara 150-350 psi tergantung
kerapatan kayu. Penggunaan pengempaan dingin (tekanan mekanik atau klem) sulit
untuk mendapatkan keseragaman ketebalan pada kayu lapis yang dibuat.
- Pengkondisian
Pengkondisian dilakukan bertujuan
untuk mengurangi sisa tegangan akibat proses pengempaan serta menyesuaikan
dengan kondisi lingkungan. Biasanya dilakukan selama 1-2 minggu.
No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.